Monday, July 8, 2013

Legenda Garam Laga



"Legenda Danau Garam Laga"

Legenda masyarakat Laga/Baucau / Timor Leste


Dikutip dari Buku        : O Oriente de Expressão Potuguesa
Penulis
                       : Antonio Almeida
Diterjemahkan oleh     : Ivan Martins
]
Danau garam yang ada di Laga
Danau Garam Laga memiliki dua versi cerita legenda yang merubah air danau menjadi garam, air garam yang pada awalnya merupakan air danau biasa.
Menurut menurut kepercayaan masyarakat Laga bahwa pada zaman dahulu, ketika seekor kerbau yang hendak dikorbankan untuk upacara adat atau Lulik (dalam bahasa Tetun) oleh suku Sama Lalu (penduduk asli desa Saé-Lári) terlepas dan berlari kedalam danau, kerbau tersebut tenggelam dan menghilang didalam danau dan tiba-tiba air danau pun berubah menjadi garam. Menurut kepercayaan masyarak
at setempat bahwa legenda sebab akibat dari tengelamnya kerbau ini tidak boleh diceritakan karena dengan alasan akan membawa malapetaka yang menyebabkan danau garam menjadi kering dan tidak dapat menhasilkan panen garam.
Legenda lain yang lebih menerangkan secara etnografis dan yang sangat menarik yaitu pada zaman dahulu nenek moyang orang Laga yang datang ke daerah ini berasal dari Larantuka (pulau Flores/Indonesia). Di larantuka tinggal seorang putri dengan ayahnya di suatu perkampungan di Larantuka yang terletak satu kilometer dari pusat pemerintahan kota Larantuka. Anak tunggal satu-satunya dan sangat dijaga oleh ayahnya serta dilarang keras oleh ayahnya untuk keluar dari rumah dan berhubungan atau berpacaran dengan orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari  ayahnya.
Pada suatu malam, seorang pemuda misterius yang turun dari langit dengan membuka atap rumah dan tidur dengan putri tersebut tanpa sepengetahuan sang ayah, pada malam yang kedua kejadian tersebut tetap tidak diketahui ayah sang putri,  tetapi kejadian tersebut tidak terulang pada malam ketiga kunjungan pemuda misterius tersebut,  karena ayah dari sang putri telah melihat suatu cahaya yang sangat terang dari dalam kamar putrinya, ayahnya terkejut dan mendekati kamar putrinya, dia mengetuk pintu kamar putrinya dan bertanya kepada putrinya, “mengapaditengah malam begini ada cahaya sangat terang dari dalam kamar kamu?”, putrinya menjawb bahwa “cahaya yang terang ini adalah cahaya dari pria yang turun dari langit dan telah tiga kali tidur dengan saya didalam kamar dan pria ini ingin melamar saya sebagai istrinya.”. Ayahnya sangat marah dan masuk kedalam kamar menghampiri pemuda tersebut dan bertanya kepada pemuda itu dari mana asal-usul pemuda itu, ” aku datang dari langit”,  jawab  pemuda itu. “Kamu tidak pantas menjadi sumi anak ku” ayah sang putri berkata dengan sangat marah. Tetapi dengan gentar sang pemuda berkata, “saya ingin menikahi putri anda”.
Danau garam yang ada di Laga
Mendengar jawaban dari sang pemuda tersebut maka ayah sang putri tersadar dan berkata, “ baiklah, kalau itu kemauan kamu, maka siapkanlah sejumlah belis(mahar pengantin). Enam pedang terbaik dari Makasar, dua belas ekor kuda dan dua belas ekor kerbau yang baik_____beberapa perhiasan, mahkota dan gelang dari emas dan perak, kalung (kalung yang terbuat dari batu karang). Tampa belis tersebut kamu tidak bisa menikahi putri saya”.
Pemuda itu  memegang tangan putri dan berkata "Ayahku di langit memiliki semua yang saya butuhkan, tapi tidak ada yang dapat dapat diwbawa dari tanah ini. Namun, saya meminta pada Anda untuk pergi besok sore ke tempat tersebut (tempat danau  garam), di mana saya akan berbicara tentang ini dengan anda ".


Pada hari yang sama, ayah putri itu berangkat ke tempat  yang telah ditentukan, disertai dengan beberapa pelayan dan anjing berburu,  serta beberapa perbekalan untuk makan.tetapi pemuda itu tidak hadir dan menempati janjinya sampai pada sore hari, ayah sang putri kembali ke istanah ia melihat bahwa tidak ada apa-apa ditempat itu dan hanya melihat disekitarnya tumbuh tanaman Tau Loco yang berduri dan berbuah kuning (Tau locu dalam bahasa Macassae)_____dan dia menyuruh kedua pelayan untuk memetik dua buah biji dari tanaman itu, selama dalam perjalanan pulang kedua pelayannya bermain-main dengan buah tersebut sehingga salah satu buah terjatuh ketanah dan tertinggal,  dan mereka hanya membawah satu buah kembali ke istanah.
Sesampainya di istanah Pemuda itu bertanya kepada ayah sang gadis, “kalian tidak membwah apa-apa dari sana”, ayah sang putri menjawab "hanya buah ini", pemuda itu mengambil buah, dan merubah buah itu menjadi perhiasan dan emas yang bermacam-macam dan sangat banyak.

Ayah sang putri sangat senang dan menyetujui pernikahan mereka dengan perhiasan dan emas tersebut sebagai Mas Kawin / Belis. Tetapi ayah sang putri bertanya kepada sang pemuda” tadi aku tidak melihat apa-apa dipulau itu (danau Garam)”. pemuda itu dengan sombong menjawab “disana ada sesuatu tetapi anda yang tidak melihatnya. Kembalilah besok pagi kesana anda akan menemukan sebuah danau disana, dan masuklah kedalam danau dan anda akan mendapatkan sesuatu yang sangat indah putih dan terang (garam")”.
Mendengar perkataan dari pemuda itu ayah sang gadis tidak dapat tidur semalaman dan hanya memikirkannya sampai pagi. 
Pada esok paginya ayah sang gadis pergi ketempat tersebut (danau Garam) dan menemukan danau kecil, dan kemudian dia masuk kedalam dan mengambil garam tersebut.
Dia pulang kerumah dengan membawah serta garam yang disimpanya dan kelak akan diberikan kepada anak cucunya. “hanya inilah yang dapat saya berikan sebagai mas kawin saya” pemuda tersebut berkata kepada ayah sang gadis, dan pernikahan mereka disetujui.
Hanya keturunan dari sang pemuda dari langit dan sang putri lah  yang berhak atas garam dan mengambil panen garam sampai sekarang.

Thursday, November 29, 2012

“ A Lenda do Sal da Lagoa de Laga “



A Lenda do Povo de sub-Distrito Laga/Distrito Baucau/Timor Leste   



Livro  : O Oriente de Expressão Potuguesa
Autor : António de Almeida


O sal de lagoa de Laga
 O sal de lagoa de Laga tem de duas curiosas lendas a transformação de água da lagoa, doce inicialmente em agua salgada, e o próprio aparecimento da lagoa.
Segundo os Nativos de Laga, há muito tempo um búfalo, quando ia ser sacrificado em estilo ou cerimonialmente pela agente da povoação do Sama Lálu (suco de SaéLári), fugio  para a lagoa ; ao mergulhar na água desapareceu para sempre, ficando o liquido salino !....não fala esta lenda dos motivos que levavam à morte do búfalo nem as razões que de terminaram posteriormente o emprego do sal do pequeno lago.
A outra lenda é mais elucidative e etnograficamente iteressante. No tempo dos avós (ou de parentes ainda mais antigos) dos actuais povos de Laga __ que para aqui vieram de Larantuka (ilha da Flores/Indonesia) vivia uma princesa com seu pai,na povoção que ora dista um quilómetro da sede do posto administrative. Era filha única e tão guardada que não podia sair à rua, não fosse apaixonar-se por algum homem que desagradasse ao pai.
Certa noite, um mancebo descido do céu entrou por abertura do tecto da casa e dormiu com a rapariga, sem o pai se ter apercebido da aventura, na segunda noitetudo se passou como na primeira, mas já o mesmo não aconteceu na Terceira visita do homem misterioso, em virtude do pai da princesa ter visto luz no quarto dela ___ali aparecida uns minutos antes conforme aviso do amante, feito ao sair da noite precedente, e destinada a chamar a atenção da sua presence.
Surpreendido, foi bater à porta do quarto da filha a perguntar porque tinha aluz acesa a hora tão tardias, ao que ela respondeu prontamente “a luz luz é de que um homem, vindo do céu, esta aqui, já dormiu comigo três vezes e quer receber-me em casamento”.
Irritado, o pai entrou e dirigiu-se imediatamente ao mancebo, inquirindo sobre a sua origem e idoneidade. “Venho do céu”, declarou o rapaz. “ não perciso dessa espécie de marido para a minha filha”, replicou-lhe rudemente. Sem se perturbar, o jóvem acrescentou, “quero casar com a sua filha”.

Perante esta séria e categorical afirmação, o pai da princesa serenou e disse, “esta bem, prepare o seguite barlaque (dote nupcial). Seis boas espadas de Macássar (Celébes), doze cavalos e doze búfalos, e devera entregar ainda várias jóias de valor___crescentes, luas e pulseiras de ouro e prata, codões de mutiçalas (colares de coral). Sem tal barlaque, não consentirei na realização do matrimónio”.
O pretendente à mão da rapariga afirmou “ O meu pai tem no céu tudo o que me exige, porém nada posso trazer para aterra. No entanto, peço-lhe que amanhã à tarde vá aquele local (que indicou –ali fica hoje a lagoa salgada), onde estarei para falarmos sobre este assunto”.
Nesse mesmo dia, o pai da jovem partiu para o sitio escolhido, acompanhado de alguns criados e de um cão de caça, animal que lhes permitiu agarrar um gato selvage e um veado, mamíferosestes logo cozinhados e comidos com grande satisfação de todos.
Ao invest do que prometera, o mancebo não compareceu a meu da tarde, ao iniciarem o regresso a casa, o pai da princesa deu conta da etranha planta carregada  de frutos amarelos (táu loco, em Macassae)---espécie de que ainda nenhuma pessoa se tinha apercebido ----, colheu dois deles com os quais patrão e criados se entretiveram a brincar durante a viagem. Entretanto, um das frutos caíu no chão e abandoram-no, levando o outro para o palácio, onde já se encontrava o homem do céu, que se desculpou da sua falta. O jovem perguntou sem demora se não trouxeram nada do campo, ao que o pai da princesa respondeu “apenas este fruto”, contando-lhe como o encontrara.
O mancebo pegou no fruto, e qual não foi a estupefacção do seu interlocutor quando o viu transformer-se em muitas e variadas jóias de ouro !...
Sem dar tempo ao pai da namorada de falar, o rapaz interrogou-o com orgulho e certo de que a sua pretensão teria bom deferimento “O meu sogro não se apercebeu de que no lugar onde esteve à minha espera há mais alguma coisa com que eu possa fazer barlaque” (contratar o casamento, satisfazer o dote) “  O que ?” ingiriu aquele, cheio de ansiedade, “não vi lá nada de interesse”, concluiu.
O homem do céu, vaidosamente, declarou “Há, sim senhor, mas o meu sogro não soube ver ! Volte amanhã ali, na planície entrará uma lagoa cheia de água, dentro da qual, no fundo, se contém uma coisa muito bonita, branca e brilhante. É sal”.
Deslumbrado mas algo duvidoso das palavras proferidas pelo mancebo, o pai da rapariga mal dormiu durante a noite e, na manhã seguinte, dirigiu-se ao sítio indicado. Realmente lá se encontrava um pequeno lago, em que entrou e colheu sal !
 
Voltou para casa, onde o aguardava o futuro genro, a quem mostrou algum sal. “É com isto que eu farei o barlaque”, reafirmou o rapaz. E, decorridos poucos dias, celebravam-se as núpcias da princesa e do homem do céu, com a pompa devida à categoria dos nubentes, indo o novo casal viver no palácio dela.
Nessa tão recuada época, Gássi Líu (Gássi Líu em lingua Macassae - o sal da lagoa) pertencia ao sogro do mancebo celestial e só os seus patrícios desfrutavam o privilégio de explorar o sal da lagoa. Ivc.