Wednesday, October 24, 2012

Makalah


Konflik Korea Utara-Korea Selatan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertahanan Keamanan di Asia Timur
(Program Mata Kuliah Hubungan Internasional Asia Pasifik)


Fakultas           : Ilmu Politik (IP) 
Jurusan            : Hubungan Internasional (HI)



Bab.I.
Pendahuluan

       1.      Latar Belakang
Korea Utara dan Korea Selatan memiliki sejarah hitam dalam masa perjuangan mereka menuju kemerdekaan kedua negara. Daratan Korea atau Choson[1] pada awalnya merupakan satu kawasan yang tidak terpisahkan, dan merupakan satu kerajaan yang dipimpin oleh dinasti Yi. Pada tahun 1910 daratan Korea dijajah oleh Jepang sampai pada tahun 1945, setelah Jepang mengakui kekalahannya dari Amerika Serikat akibat Perang Dunia-II, maka daratan Korea pun terbagi menjadi dua wilayah yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. Korea Selatan diduduki oleh Amerika Serikat yang berideologi Kapitalis-Liberalis dan Korea Utara diduduki oleh Uni Soviet yang berideologi Sosialis-Komunis hingga kedua negara meraih kemerdekaannya pada tahun 1948. Korea Utara meraih kemerdekaannya dari Uni Soviet pada 1 Mei 1948 dan Korea Selatan pada 15 Agustus 1948.

1.         1. Konflik Korea Utara-Korea Selatan
Konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan juga merupakan konflik antara kepentingan politik antara negara Super Power (Blok Timur dan Blok Barat) atau konflik ideologi setelah berakhirnya perang Dunia-II.
Pada masa penjajahan Jepang di Korea, sebagian besar rakyat Korea  melarikan diri ke kawasan Cina utara dan Rusia, rakyat korea yang berada di Cina dan Rusia mulai mendirikan organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan untuk melawan penjajahan Jepang, maka pada bulan September 1919  gerakan perjuangan kemerdekaan tersebut berhasil mendirikan pemerintahan sementara yang berbasis di Shanghai, Cina. Pemerintahan sementara itu menegakkan ideologi baru untuk mendirikan suatu negara yang memakai sistem republik demokrasi sebagai penganti sistem kerajaan.
Dipengaruhi oleh revolusi Rusia (1917), di Korea mulai muncul idiologi sosialisme. Kemunculan ideologi  sosialisme ini membuat gerakan perjuangan kemerdekaan Korea terpecah menjadi dua kubu, left wing dalam bahasa Korea disebut dja ik yang berideologi sosialisme dan right wing yang disebut woo ik  yang berideologi liberal. Perbedaan ideologi tersebut berlanjut sampai Perang Dunia ke–II berlangsung dan Jepang mengakui kekalahannya terhadap AS dan sekutunya. Meskipun adanya perbedaan ideologi diantara rakyat Korea, tetapi tidak menyulutkan semangat perjuangan rakyat Korea untuk kemerdekaan negara mereka.
Usaha untuk menyatukan kembali kedua Korea muncul dari Korea Utara yang mengklaim bahwa Korea Selatan merupakan bagian dari Korea Utara, sehingga  pada tahun 1950 Korea Utara melakukan seranggan terhadap Korea Selatan dan menyebabkan perang terbuka yang melibatkan militer Rusia dan Cina yang didukung peralatan perang yang lengkap dan Korea Selatan yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Perang terbuka tersebut menyebabkan korban jiwa yang berjatuhan dari kedua belah pihak, menurut estimasi angka dari Cristine Locher[2], bahwa 50.000 tentara Amerika Serikat, 900.000 tentara Cina dan 520.000 tentara Korea Utara  tewas dalam perang terbuka antara kedua negara. Perang terbuka Korea Utara-Korea Selatan berakhir pada tahun 1953, yang mencapai persetujuan perundingan genjata-senjata antara Korea Utara-Korea Selatan yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina, Jepang dibawah pengawasan PBB yang dikenal dengan Korean Treaty/Perjanjian Korea untuk menghentikan peperangan, tetapi Korea Selatan menolak untuk menandatangani perjanjian tersebut dengan alasan-alasan tertentu namun tetap menghormati isi dari perjanjian tersebut.

1         .2. Pasca Perang Dingin
Setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, AS muncul sebagai satu-satunya negara super power didunia, namun kemunculan AS sebagai superpower didunia belum tentu menjamin stabilitas keamanan dunia pada waktu itu, justru sebaliknya semakin terjadinya instabilitas dalam perpolitikan dunia dengan banyaknya persaingan antara negara-negara didunia, sengketa etnik, persaingan dalam memberi pengaruh, perlombaan dalam penguasaan senjata maupun perlombaan dalam penjualan senjata termasuk pengembangan senjata nuklir. Kawasan Asia merupakan potensi yang besar terjadinya konflik antar negara, khususnya di Asia timur antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Korea Utara yang semula menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet (Rusia) dan Cina sebagai sekutu dalam menghadapi AS mengalami perubahan. Pasca perang dingin Cina lebih memfokuskan diri pada pertumbuhan ekonomi negara mereka dan menjalin hubungan yang erat dengan negara-negara kapitalis dan AS, dan menghapus kerjasama perdagangannya dengan Korea Utara serta pasokan energinya terhadap Korea Utara, begitupula dengan Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet dan mengalami perpecahan dalam negaranya maka seperti halnya dengan Cina, Rusia  pun lebih memfokuskan pada pembangunan perekonomian mereka pasca runtuhnya Uni Soviet dan menjalin hubungan yang baik dengan AS dan negara-negara kapitalis didunia.
Dengan munculnya AS sebagai negara super power satu-satunya didunia, maka Korea Utara megangap bahwa AS merupakan ancaman bagi Korea Utara sehingga  pada dekade tahun 1980-an Korea Utara mulai mengembangkan reaktor nuklir sebagai penganti energi alternatif dan membuat senjata nuklir untuk memperkuat partahanan militer menghadapi ancaman dari luar khususnya Korea Selatan yang didukung oleh AS. Masa-masa krisis muncul ditahun 1990-1994, Pada tahun 1995 Korea Utara telah menyetujui untuk mengganti reaktor-reaktor nuklir model lamanya yang diduga mampu memproduksi senjata nuklir, dengan reaktor nuklir jenis air ringan yang lebih aman. Dalam pelaksanaan program ini, Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan membentuk organisasi pengembangan energi semenanjung Korea (Korean Peninsula Energy Development Organisation/KEDO).
Tetapi pada tahun 1998 Korea Utara melakukan uji coba nuklirnya dan berhasil meluncurkan misil pertama mereka yang diberi nama Taepo Dong-1[3], dimana AS menganggap pengembangan nuklir Korea Utara mengancam stabilitas keamanan regional dan dunia, segala bentuk tindakan diambil oleh AS untuk mengisolasikan dan menghentikan program nuklir Korea Utara dengan menjatuhkan sanksi-sanksi dan menghentikan bantuan-bantuan ekonomi dan kemanusian terhadap Korea Utara.


Bab. II.Kerangaka Teori

Seperti diketahui bahwa konflik adalah suatu hal yang sering terjadi didalam kehidupan bermasyarakat didalam hal ini hubungan dan interaksi antara masyarakat, konflik tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri. Didalam hubungan internasional konflik merupakan sesuatu hal yang sering terjadi didalam interaksi internasional, dan dari konflik-konflik yang terjadi tersebut maka akan tercapai suatu konsensus dan perubahan-perubahan didalam hubungan internasional antara negara didunia.
Didalam penulisan ini penulis sengaja memakai teori yang dikutip dari salah satu artikel di internet yang dianggap penulis sangat relevan dengan judul dan pokok permasalahan yang akan dibahas oleh penulis dalam makalah dengan judul “Konflik Korea Utara-Korea Selatan dan Pengaruhnya Pertahanan Keamanan di Asia Timur”, teori yang akan digunakan yaitu teori Frustrasi-Agresi.

1.     Teori Frustasi-Agresi[4]
Menurut J. Dollard dkk (1939) membuat hipote­sis bahwa: “Agresi selalu merupakan konse­kuensi dari frustasi, dan keberadaan frustasi selama menyebabkan terjadinya tindakan dalam bentuk agresi” (Agression is always a conse­quence of frustation, and the existence of frus­tration always lead to some form of agression.”
Miller (1941) kemudian memperhalusnya de­ngan menggantikan kata “always” dengan “usually. Ditinjau dari teori Frustrasi-Agresi, perang bersumber dari adanya rasa frustasi yang berupa frustrasi terhadap penguasa, atau­pun frustrasi terhadap suatu bangsa lain yang ingin berkuasa di bidang politik, ekonomi ataupun aspek lainnya.
Menurut pendekatan Kognitif konflik internasional terjadi karena adanya proses per­sepsi yang keliru (misperception) di dalam me­nanggapi suatu situasi yang terjadi. Ralph K. White (1970) mengatakan bahwa ada enam hal yang merupakan mispersepsi yang seringkali menimbulkan konflik internasional yaitu:
1.      “Diabolical enemy image” (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan).
2.      “Vipile self image” (pandangan bahwa diri sendiri jantan).
3.      “Moral self image” (pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis)
4.      “Selective in attention” (tidak memperha­tikan hal-hal yang bertentangan dengan ke­yakinan).
5.      “Absence of empathy” (tidak adanya rasa empati).
6.      “Military over confidence” (keyakinan yang berlebih-lebihan akan kekuatan militer).
Pandangan bahwa musuh jahat seperti setan terjadi ketika dua negara dalam keadaan konflik, negara-negara tersebut akan melihat negara musuhnya dalam bayangan yang serba negatif. Masing masing negara melihat musuh­nya sebagai “agresor” dan negara tersebut seba­gai obyek agresi.
Dalam menjelaskan pandangan bahwa diri sendiri adalah jantan, White menggunakan kasus perang Vietnam untuk menunjukkan ada­nya pandangan tersebut. Pidato-pidato yang di­sampaikan oleh para senator di Kongres Ameri­ka Serikat dalam kaitannya dengan perang Viet­nam pada umumnya berisikan pernyataan bah-wa Amerika harus bersikap jantan, tidak penakut di dalam menghadapi masalah Vietnam. Amerika harus berani berperang demi menjaga nama baik.
Pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis terjadi ketika negara yang berada dalam konflik dengan negara lain melihat dirinya se­bagai yang benar, dan Tuhan bersama dia. Buat kebanyakan orang Amerika, segala tindakan Amerika di luar negeri dianggap benar, karena memperjuangkan hak azasi manusia dan menciptakan perdamaian dunia. Pikiran yang berka­itan dengan keuntungan bagi Amerika Serikat sendiri dari tindakannya di luar negeri biasanya tidak begitu terlintas di pikiran mereka.
Tidak memperhatikan hal-hal yang ber­tentangan dengan keyakinan dapat dilihat di da-lam keadaan konflik orang-orang seringkali ti­dak mau mengindahkan pendapat dan atau berita-berita yang bertentangan dengan apa yang dia yakini. Segala informasi dari negara musuh dianggap tidak benar. Semua pendapat atau berita yang berasal dari sumber lain yang berten­tangan akan dianggap tidak benar dan diabai­kan. Pokoknya yang paling benar hanyalah diri­nya sendiri.
Tidak adanya rasa empati terjadi ketika dalam keadaaan konflik negara yang terlibat ti­dak memiliki sama sekali rasa empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh lawan. Hadir­nya rasa empati terhadap penderitaan lawan di­anggap suatu “ketidak jantanan” (ummanly), dan hal ini akan memperlemah keyakinan bahwa pihak merekalah yang benar, dan lawanlah yang salah.
Keyakinan yang berlebih-lebihan terha­dap kekuatan militer menyebabkan perang an­tarnegara yang terjadi ketika masing masing ne­gara merasa yakin akan keampuhan kekuatan militer yang dimilikinya. Masing masing nega­ra yakin bahwa negaranya pasti menang di da-lam peperangan. Pikiran yang demikian sering­kali hanya merupakan ilusi.
Disamping ke-enam hal tersebut di atas, masih ada lagi suatu bentuk kesalahan pandang-an (mispersepsi) yang dapat menimbulkan kon­flik internasional, yaitu cara berpikir “hitam­putih.” Cara berpikir ini biasanya hanya meli­hat sesuatu dari dua kemungkinan “kalau bu-kan kawan saya, pasti lawan saya” atau ”kalau tidak Amerika, pasti Rusia.” Cara berpikir de­mikian seringkali menimbulkan kesalahan di da-lam melihat sesuatu masalah internasional.

Bab. III.Pembahasan
Konflik Korea Utara-Korea Selatan atau yang lebih dikenal dengan konflik semanjung Korea merupakan konflik kepentingan atara negara-negara adidaya yang berbeda sudut pandang dan ideologinya yang ingin memperluas pengaruh dan dominasinya didunia khususnya di Asia Timur.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi didalam percaturan politik internasional, maka konflik Korea Utara-Korea Selatan mengalami pergeseran atau perubahan dari isu-isu ideologi beralih ke isu nuklir yang dikembang oleh Korea Utara. Keterlibatan negara-negara besar dalam penyelesaian konflik Korea Utara sagatlah dibutuhkan, AS dan Cina pun ikut terlibat dalam proses penyelesaian konflik nuklir Korea Utara.

3.1.Kebijakan Luar Negeri AS dan Cina Terhadap Program Nuklir Korea Utara
Sikap AS terhadap program nuklir Korea Utara pasca perang dingin sampai sekarang menentang segala bentuk kebijakan yang diambil oleh Korea Utara, dan mencari jalan keluar bagi penyelesaian konflik Korea Utara, usaha-usaha yang dilakukan pemerintah AS yaitu pada tahun 1994 pada masa pemerintahan Bill Clinton. Kebijakan yang diambil pemerintahan Bill Clinton pada masa iu mengakui secara de facto regim Korea Utara dan melakukan negosiasi langsung dengan Pyongyang/Korea Utara untuk mencari solusi dan jalan keluar bagi konflik Korea Utara. Usaha tersebut berhasil mencapai solusi dengan ditandatanganinya  Geneva Agreement yang merupakan pelopor lahirnya protokol KEDO (Korean Peninsula Energy Development Organisation).
Segala usaha dan kebijakan AS yang dilakukan pemerintahan Bill Clinton mengalami kemunduran setelah pada masa pemerintahan Gorge W. Bush berkuasa dan terjadinya peristiwa serangan terrorist pada 11 September 2001 di AS membuat kebijakan luar negeri AS berubah dalam masalah nuklir Korea Utara. Kebijakan AS melawan terrorisme (War Againts Terrorisme) dan mencap Korea Utara sebagai negara sponsor terrorime, hal ini terbukti dengan peryataan Bush yang menyatakan bahwa Korea Utara sebagai “Axis Of Evil” sama seperti Irak dan Iran. Proses penyelesaian damai konflik Korea Utara mengalami kemunduran dan berpeluang terhadap perang terbuka antara AS dan Korea Utara.
Cina merupakan merupakan salah satu kunci utama dari penyelesaian konflik Korea Utara, kebijakan luar negeri yang dilakukan Cina terhadap Korea Utara pada awalnya tetap pada prinsipnya mendukung Korea Utara, waulaupun pasca perang dingin Cina mulai terbuka dan membangun hubungan baiknya dengan negara-negara kapitalis dan AS, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan Cina dengan Korea Utara terputus, hal ini terbukti dengan bantuan-bantuan ekonomi dan pangan yang diberikan Cina kepada Korea Utara. Cina juga menjadi mediator atas perundingan konflik Korea Utara dengan melakukan mediasi pertemuan Six Party Talk yang melibatkan enam negara yaitu Korea Utara, Cina, Korea Selatan, AS, Jepang dan Rusia, tetapi segala usaha dilakukan Cina tidak berhasil karena Korea Utara menarik diri dari perundingan tersebut karena Korea Utara mengangap bahwa perundingan tersebut hanya menguntungkan pihak AS.

 3.2.Peranan Negara-negara Asia Timur Dalam Penyelesaian Konflik Korea Utara dan Korea Selatan
Dalam merespon konflik yang terjadi di semenanjung Korea, Jepang sebagai negara tetangga yang berada dikawasan Asia Timur juga melakukan usaha-usaha untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, salah satu usaha yang dilakukan Jepang untuk menyelesaikan konflik tersebut adalah dengan usaha diplomasi Jepang terhadap Korea Utara yang diadakan pada 17 September 2002 untuk menciptakan saling pengertian, saling percaya dalam masalah pertahanan dan keamanan masing-masing negara yang dituangkan dalam deklarasi Pyongyang yang bertujuan untuk :
1.     Mengajak Korea Utara untuk bertindak secara tegas sebagai anggota komunitas internasional yang peduli mengenai isu-isu keamanan seperti misil dan senjata nuklir serta menyelesaikan dialog antara Amerika Serikat, Korea Selatan dan negara-negara lainnya yang berkeinginan untuk mengurangi ketegangan yang ada di semenanjung Korea.
2.      Isu penculikan merupakan masalah utama yang secara langsung menyangkut kehidupan dan keamanan rakyat Jepang. Menghadapi masalah ini Kim Jong II telah meminta maaf kepada PM Junichiro Koizumi dan berjanji akan mencegah terjadinya hal seperti itu lagi dimasa yang akan datang.
3.      Dalam keamanan, Kim Jong II menginformasikan pentingnya mempromosikan dialog antara negara-negara yang terlibat dan ia berjanji akan mematuhi perjanjian internasional yang berhubungan dengan masalah nuklir Korea Utara[5].
  
        Akan tetapi niat baik Jepang tidak mendapat tanggapan dari Korea Utara karena kedekatan Jepang terhadap AS, sehingga Korea Utara tidak menaggapi dengan serius usaha-usaha yang dilakukan oleh Jepang.
  
   Usaha-usaha reunifikasi juga dilakukan oleh Korea Selatan terhadap Korea Utara  pada tanggal 15 Juni 2000 menadatangani deklarasi bersama (South-North Joint Declaration)  dengan keraja sama di berbagai bidang, salah satu isi dari deklarasi tersebut antara lain pertukaran keluarga-keluarga yang terpisah akibat konflik. Tetapi halini tidak bertahan lama pada tanggal 29 Juni 2002 kedua Korea kembali mengalami bentrokan perang antara angkatan laut Korea Utara dan angkatan laut Korea Selatan dilaut kuning, dan Korea Selatan menghentikan bantuan pangan ke Korea Utara.

  
3.3.Dampak Dari Konflik Korea Utara-Korea Selatan Terhadap Keamanan di Kawasan Asia Timur
Korea Utara mengangap bahwa pengembangan senjata nuklir yang dilakukannya adalah untuk mempertahankan kedalautannya serta ancaman keamanan dari negara lain terhadap negaranya, akan tetapi negara-negara seperti Jepang terancam dengan pengembangan senjata nuklir Korea Utara dan uji coba-uji coba yang dilakukan oleh Korea Utara, maka negara-negara dikawasan seperti halnya Jepang dan juga Korea Selatan meningkatkan kemampuan pertahanan keamanan dan militer mereka dengan melakukan kerjasama militer mereka dengan AS untuk mencegah terjadinya perang terbuka


Bab. III.Kesimpulan

Konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara pada awalnya merupakan konflik ideologi yang muncul semenjak masa perjuang rakyat Korea menuju kemerdekaannya. Dan pada pasca perang dunia-II Korea tebagi menjadi dua negara yang berlanan ideologi, Korea Utara yang berideologi Komunis dan Korea Selatan yang berideologi Kapitalis.
Setelah pasca perang dingin konflik yang semula pada ideologi berubah menjadi konflik nuklir Korea Utara. Pada pasca perang dingin dan jatuhnya Uni Soviet, maka AS menjadi satu-satunya negara super power di dunia, Korea Utara merasa terancam dengan kehadiran AS sebagai super power Korea Utara berusaha mengembangkan nuklir guna menghadapi ancaman-ancaman terhadapnya dirinya, juga sebagai energy alternative. Krisis nuklir Korea Utara memuncak pada dekade  1990-an dimana segala usaha yang dilakukan oleh AS dan Cina serta negara-negara dikawasan Asia Timur mengalami kendala-kendala dan hambatan dalam proses penyelesaian nuklir Korea Utara hingga Sekarang.


DATAR PUSTAKA

Buku
1.      Yoon, Yang Seung dan Mas’oed, Mohtar : “Masyarakat, Politik dan Pemerintahan Korea : Sebuah Pengantar”. Gadjah Mada University Press, 2003.
Internet
5.      “Chronology of U.S.-North Korean Nuclear and Missile Diplomacy”. http://www.armscontrol.org/factsheets/dprkchron





[1]  Choson adalah nama dinasti kerajaan Korea yang menguasai Korea pada tahun 1392-1910 yang dikenal dengan Choson dynasty/Yi dynasty.
[2]  Cristine Locher,”The Conflict with North Korea/North Korea as a source Of Conflict”. Hal.13. diakses pada tanggal 19 Maret 2012.
[5]  Dampak Pengembangan Nuklir Korea Utara Terhadap Kompleksitas Keamanan Regional Asia Tmur, http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/132725-T%2027803-Dampak%20pengembangan-Analisis.pdf, diakses  pada tanggal 15 Mei 2012